siapa pun nanti siapa pun nanti yang menjadi pemimpin kita. semoga jalan dari banjit sampai Banjar Negara di Perbaiki. kasihan masyarakat disana jalanya rusak. ...Baca Lengkap |
Blog ini didedikasikan sebagai rasa cinta dan kepedulian pada kampung halaman.
PROFILE DAERAH
Asal Usul |
Asal-usul Ulun Lampung erat kaitannya dengan istilah Lampung sendiri. Kata Lampung sendiri berasal dari kata "anjak lambung" yang berarti berasal dari ketinggian ini karena para puyang Bangsa Lampung pertama kali bermukim menempati dataran tinggi Sekala Brak di lereng Gunung Pesagi. Sebagaimana I Tsing yang pernah mengunjungi Sekala Brak setelah kunjungannya dari Sriwijaya dan dia menyebut To-Langpohwang bagi penghuni Negeri ini. Dalam bahasa hokkian, dialek yang dipertuturkan oleh I Tsing To-Langpohwang berarti orang atas dan seperti diketahui Pesagi dan dataran tinggi Sekala brak adalah puncak tertinggi ditanah Lampung. Pada dasarnya jurai Ulun Lampung adalah berasal dari Sekala Brak, namun dalam perkembangannya, secara umum masyarakat adat Lampung terbagi dua yaitu masyarakat adat Lampung Saibatin dan masyarakat adat Lampung Pepadun. Masyarakat Adat Saibatin kental dengan nilai aristokrasinya, sedangkan Masyarakat adat Pepadun yang baru berkembang belakangan kemudian setelah seba yang dilakukan oleh orang abung ke banten lebih berkembang dengan nilai nilai demokrasinya yang berbeda dengan nilai nilai Aristokrasi yang masih dipegang teguh oleh Masyarakat Adat Saibatin. Way kanan sendiri merupakan bagian dari masyarakat adat lampung pepadun, dimana terdiri dari Way Kanan Buay Lima (Pemuka, Bahuga, Semenguk, Baradatu, Barasakti, yaitu lima keturunan Raja Tijang Jungur). Nah dalam strata adat lampung itu sendiri, Masyarakat WayKanan mendiami wilayah adat: Negeri Besar, Pakuan Ratu, Blambangan Umpu, Baradatu, Bahuga, dan Kasui. Karena itulah Berdasarkan peta bahasa yang dimiliki Bahasa Lampung masyarakat way kanan menggunakan dialek A (api) yang dipakai oleh ulun Sekala Brak, Melinting Maringgai, Darah Putih Rajabasa, Balau Telukbetung, Semaka Kota Agung, Pesisir Krui, Ranau, Komering dan Daya (yang beradat Lampung Saibatin), serta Way Kanan, Sungkai, dan Pubian (yang beradat Lampung Pepadun). Pepadun itu sendiri memiliki sebuah arti yaitu singgasana raja yang hanya boleh digunakan atau diduduki ketika hari penobatan Sultan Kepaksian Skala Brak. Pepadun dibuat dari kayu pohon Belasa Kepampang yang dikeramatkan karena dipercaya memiliki keistimewaan. Kerajaan atau Kepaksian Skala Brak yang terdapat di Lampung Barat, Provinsi Lampung, terdiri dari empat Paksi dengan pemimpinnya masing-masing. Untuk menghindari perselisihan, maka pepadun dititipkan kepada orang kepercayaan keempat Paksi, yang dikenal dengan nama Benyata. Ketika salah seorang dari keempat pemimpin Kepaksian membutuhkan pepadun untuk keperluan penobatan, maka pepadun itu dapat diambil namun harus dikembalikan lagi kepada Benyata setelah digunakan. Terdapat dua makna filosofis yang terkandung dalam kata pepadun, yaitu:
|
| BERITA UMUM |
| PENDIDIKAN |
| TEKNOLOGI |
| RAGAM BUDAYA |
| INFRASTRUKTUR |
| OPINI WARGA |
| TESTIMONIAL |






![]() | Hari Ini | 35 |
![]() | KEmarin | 23 |